6 Penyebab Utama Budaya Quiet Quitting dalam Perusahaan

Table of Contents

apa itu quiet quitting

Belakangan ini muncul berbagai istilah yang beredar dalam dunia kerja, termasuk salah satunya yaitu fenomena quiet quitting. Fenomena ini banyak diterapkan oleh karyawan saat bekerja, terutama anak muda.

Secara umum seorang karyawan akan bekerja 8 jam sehari dengan total 5 hari kerja, tetapi ada juga perusahaan yang menetapkan jam kerja yang fleksibel berdasarkan shift kerja yang ditetapkan.

Di luar itu, mereka memiliki waktu pribadi yang dihabiskan untuk diri sendiri, bersama teman, pasangan, keluarga atau untuk kepentingan lain yang harus diperhatikan.

Budaya quiet quitting ramai dibicarakan karena pada dasarnya merupakan bentuk budaya kerja yang berlawanan dengan trend hustle culture yang dianggap berbahaya bagi kesehatan mental dan fisik karyawan.

Pernahkah kamu mendengar istilah ini juga? Jika belum, pada artikel berikut ini akan membahas secara lengkap apa itu fenomena quiet quitting, penyebab, dampak positif dan negatif bagi perusahaan serta karyawan.

Ayo simak bersama!

Pengertian Quiet Quitting 

penyebab quiet quitting

Quiet quitting adalah fenomena yang merujuk pada prinsip kerja sesuai dengan upah dan porsinya, dimana karyawan memilih untuk bekerja sesuai job desk dan berhenti bekerja ketika jam pulang kerja.

Quiet quitting juga merupakan bentuk disengagement karyawan dimana mereka tidak bersedia melakukan pekerjaan diluar ekspektasi kerja yang tertulis dalam kontrak kerja dengan tujuan untuk mendapatkan work-life balance yang lebih baik.

Bagi sebagian orang, work-life balance adalah hal utama yang harus diterapkan saat bekerja. Dengan adanya quiet quitting maka karyawan mendapatkan waktu lebih untuk menikmati kebersamaan bersama orang terdekat maupun menjalankan kegiatan yang digemarinya.

Namun bukan berarti budaya kerja ini mengandung arti negatif, apalagi berhenti bekerja atau meninggalkan pekerjaan secara diam-diam. Seorang yang melakukan quiet quitting pada dasarnya tetap menyelesaikan tanggung jawab sesuai dengan porsinya.

Mereka cenderung menerapkan prinsip ‘mengerjakan seperlunya dan tidak berlebihan’ dalam mendapatkan keseimbangan antara bekerja dan kehidupan pribadi. Dengan begitu, kualitas hidup akan menjadi lebih baik serta meningkatkan nilai kerja.

Tanda Karyawan yang Menerapkan Quite Quitting

Untuk mengetahui apakah karyawan melakukan quite quitting atau tidak, perusahaan harus mengetahui tanda atau ciri-ciri apa yang ditunjukkan, yaitu sebagai berikut:

  • Sering datang terlambat
  • Pulang tepat waktu atau bahkan lebih awal
  • Berkurangnya produktivitas & antusiasme
  • Menghindari event kantor
  • Hanya memberikan sedikit kontribusi dalam kerja tim
  • Rasa kepedulian rendah
  • Kurang bersosialisasi dengan rekan kerja
  • Cuek & pasif dalam memberikan masukan

Penyebab Quite Quitting

penyebab quiet quitting

Mengaplikasikan prinsip work-life balance memang diperlukan karena akan memberikan dampak yang besar pada kehidupan dan kesehatan pekerja. Hal ini yang menjadi salah satu alasan mengapa budaya quiet quitting mulai banyak diterapkan oleh pekerja, khususnya Gen Z.

Quiet quitting adalah salah satu respon yang dilakukan agar mereka tidak merasa kelelahan karena diperbudak atau dikekang oleh pekerjaan yang tidak ada habisnya sampai mempengaruhi kesehatan fisik dan mental.

Apa saja penyebab sehingga munculnya budaya kerja quiet quitting?

Beban kerja berlebih

Karyawan yang pada awalnya semangat namun karena terlalu banyak beban yang diberikan dan bekerja terlalu keras sehingga mengalami kelelahan, frustasi hingga kemunduran kinerja. Seringkali terjadi saat adanya pergantian staf atau kekosongan pada posisi tertentu.

Hal ini umumnya disebabkan karena pemberi kerja memberikan tekanan yang terlalu besar hingga tidak menyediakan ruang bagi pekerja dalam menyuarakan pendapat dan melakukan negosiasi batasan yang diperlukan.

Saat pekerja merasa beban kerja terlalu berat, tidak sebanding dengan kompensasi & tidak seimbang dengan kehidupan pribadi mereka sehingga mereka mengalami burnout, juga  lelah secara fisik dan emosional, maka ini akan menjadi penyebab utama mereka menerapkan budaya kerja quiet quitting.

Kurangnya pengakuan dan penghargaan

Diluar gaji, pemberian kompensasi juga merupakan salah satu bentuk apresiasi yang perusahaan berikan kepada karyawan, baik berupa bonus, promosi jabatan, pemberian tunjangan & fasilitas.

Ketika pekerja merasa usahanya tidak diakui dan tidak dihargai dengan baik maka lama kelamaan ia akan kehilangan minat dan motivasinya untuk bekerja sehingga kinerja kerjanya akan cenderung menurun.

Tidak ada peluang untuk berkembang

Karyawan yang tidak diberikan kesempatan untuk berkembang akan merasa tidak puas dan terjebak dalam rutinitas yang monoton.

Komunikasi yang tidak baik

Atasan yang peduli dan memberikan perhatian akan meningkatkan motivasi kerja bagi para karyawannya. Namun sebaliknya, ketika karyawan merasa tidak dilibatkan atau tidak dapat menyalurkan pendapat secara terbuka karena buruknya komunikasi akan cenderung merasa terasing.

Lingkungan kerja yang dipenuhi konflik, ketegangan serta kurangnya dukungan antar rekan kerja yang menyebabkan ketidakharmonisan dalam tim.

Karyawan lebih memilih untuk diam karena tidak tahu bagaimana cara atau bahkan takut mengungkapkan permasalahan dan kekhawatiran mereka. Rasa kepemilikan mereka terhadap pekerjaan pun berkurang.

Ketidaksesuaian dengan nilai dan kepribadian

Karyawan yang merasa tidak cocok dan tidak adanya ketidakselarasan dengan nilai, budaya ataupun tujuan perusahaan akan cenderung menjalankan budaya quiet quitting. Mereka akan merasa tidak puas dan tidak terhubung secara emosional dengan pekerjaan mereka.

Tidak adanya batas yang jelas

Apabila perusahaan tidak dapat menghormati waktu pribadi karyawan, tidak mengenali batasan pekerjaan dan kehidupan pribadi karyawan, seperti meributkan pekerjaan diluar jam kerja, bahkan saat libur atau cuti, maka jangan heran jika karyawan melakukan quiet quitting.

Penting bagi perusahaan dan pelaku bisnis untuk mengetahui faktor penyebab quiet quitting  sehingga mereka dapat mengambil langkah yang tepat dalam mencegahnya.

Namun tahukah kamu apa saja dampak baik dan buruk dari budaya quiet-quitting serta apa saja langkah yang dapat perusahaan lakukan untuk mencegah karyawannya menjalankan budaya kerja ini? Simak selengkapnya pada artikel dampak dan langkah menghindari budaya quiet quitting disini.

Mulai Transformasi Bisnis Anda

#YakinDenganProint
Partner Tepat untuk Bisnis Anda

Dipercaya oleh perusahaan-perusahaan terdepan di Indonesia