Sudah Pakai HRIS, Tapi Proses HR Masih Belum Efisien? Ini 7 Tandanya

Table of Contents

7 Tanda Perusahaan Membutuhkan HRIS yang Lebih Advanced

HRIS seharusnya membantu HR mengelola data dan proses Human Resources dengan lebih cepat, akurat, dan terstruktur. Namun, seiring pertumbuhan perusahaan, sistem yang sebelumnya sudah cukup dapat mulai menunjukkan keterbatasan. Data semakin banyak, proses payroll semakin kompleks, struktur organisasi berkembang, sementara pekerjaan manual dan kebutuhan reporting terus bertambah.

Jika HR masih sering berpindah antar spreadsheet, melakukan double input, mengejar approval, atau membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan laporan, bisa jadi perusahaan membutuhkan HRIS yang lebih advanced. Lantas, apa saja tandanya? Simak tujuh indikator berikut untuk membantu HR mengevaluasi apakah sistem yang digunakan saat ini masih mampu mendukung kebutuhan perusahaan sekaligus mengetahui manfaat yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih HRIS berikutnya.

Mengapa HRIS Belum Tentu Membuat Proses HR Lebih Efisien?

Mengapa HRIS Belum Tentu Membuat Proses HR Lebih Efisien?

HRIS (Human Resources Information System) adalah sistem yang membantu perusahaan mengelola data dan berbagai proses HR secara digital. Dalam penerapannya, HRIS dapat mendukung kebutuhan seperti employee data, attendance, payroll, performance management, recruitment, learning & development, hingga workforce management.

Namun, efektivitas HRIS sangat bergantung pada kemampuan sistem dalam menjawab kebutuhan perusahaan.

HRIS dengan fungsi dasar mungkin sudah cukup ketika proses HR masih sederhana. Tetapi ketika perusahaan berkembang, kebutuhan terhadap integrasi, fleksibilitas, automation, reporting, dan pengelolaan data juga meningkat.

Karena itu, memiliki HRIS saja belum cukup. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa sistem yang digunakan masih mampu mengikuti perkembangan proses, struktur, dan kebutuhan HR.

Jika berbagai keterbatasan mulai muncul dalam pekerjaan sehari-hari, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal bagi perusahaan untuk mengevaluasi kembali apakah HRIS yang digunakan masih relevan dan mampu mendukung kebutuhan bisnis saat ini.

7 Tanda Perusahaan perlu upgrade HRIS

7 Tanda Perusahaan Membutuhkan HRIS yang Lebih Advanced

1. Data HR Masih Tersebar di Berbagai Sistem

Data karyawan seperti data pribadi, jabatan, gaji, absensi, dan status kerja sebaiknya dikelola dalam satu sistem agar mudah diakses dan diperbarui. Jika masih tersebar di berbagai file atau aplikasi, HR harus mengelola data secara terpisah. Akibatnya, pekerjaan administratif menjadi lebih lama, risiko kesalahan data meningkat, dan waktu HR untuk pekerjaan yang lebih strategis menjadi berkurang.

Apa dampaknya bagi HR?

Data yang tidak terpusat dapat menyebabkan:

  • proses administrasi menjadi lebih panjang,
  • double input,
  • risiko human error,
  • kesulitan menemukan informasi terbaru, dan
  • waktu yang lebih banyak untuk melakukan pengecekan.

Dengan HRIS yang terintegrasi, data karyawan dapat dikelola dalam satu sistem dan saling terhubung dengan berbagai proses HR lainnya. HR tidak perlu lagi menghabiskan banyak waktu untuk mencari dan mengelola data secara manual, sehingga dapat lebih fokus pada pekerjaan strategis seperti pengembangan karyawan, perencanaan tenaga kerja, dan peningkatan employee experience.

2. Proses Payroll Semakin Kompleks

Perhitungan payroll menuntut akurasi yang sangat tinggi mengingat implikasinya terhadap hak keuangan pekerja. Seiring pertambahan jumlah SDM, volume data yang wajib dikelola pun meningkat pesat, mencakup upah pokok, berbagai tunjangan, potongan pajak PPh-21, iuran BPJS, lembur, bonus, hingga THR.

Apabila pengelolaan gaji masih bergantung pada spreadsheet dan entri manual, tim HR terpaksa mengkompilasi serta memverifikasi informasi secara parsial. Setiap perubahan pada kehadiran atau komponen gaji harus ditinjau ulang guna menghindari kekeliruan perhitungan. Besarnya beban verifikasi data manual ini secara langsung akan memperlama durasi penyelesaian administrasi payroll di setiap bulannya.

Melalui HRIS yang terintegrasi, seluruh data kehadiran, lembur, dan elemen penggajian saling terhubung otomatis dalam ekosistem tunggal. HR tidak perlu lagi melakukan rekonsiliasi data dari beragam sumber berbeda, sehingga efisiensi proses meningkat, potensi human error dapat ditekan, dan fokus HR dapat dialihkan pada inisiatif pengembangan organisasi yang lebih strategis.

3. HR Masih Menghabiskan Banyak Waktu untuk Mengejar Approval

Berbagai proses persetujuan (Approval) HR, seperti cuti, lembur, dan pembaruan data, sering kali berjalan lambat jika masih menggunakan metode konvensional seperti email atau dokumen fisik. Kendala utamanya adalah sulitnya melacak status pengajuan dan banyaknya waktu yang terbuang karena HR harus mengingatkan pihak menyetujui satu per satu. 

Penerapan HRIS terintegrasi menawarkan solusi melalui otomatisasi alur persetujuan yang sistematis. Pengajuan karyawan langsung terdistribusi kepada otoritas terkait, sementara pemantauan status dapat dilakukan secara transparan dalam satu platform. Hal ini membebaskan HR dari tugas administratif yang repetitif, memungkinkan mereka untuk berfokus pada inisiatif yang lebih strategis.

4. HR Memiliki Banyak Data, tetapi Sulit Menghasilkan Insight

Data HR seperti headcount, absensi, turnover, payroll, recruitment, dan performance dibutuhkan untuk melihat kondisi workforce. Namun, jika data masih tersebar di berbagai file, HR harus mengumpulkan dan mengolahnya satu per satu sebelum dapat membuat laporan. Akibatnya, proses reporting lebih lama dan waktu HR untuk menganalisis data menjadi terbatas.

Dengan HRIS yang dilengkapi reporting dan dashboard, data dari berbagai proses HR dapat tersaji dalam satu sistem. HR dapat lebih cepat mendapatkan informasi, memantau kondisi workforce, dan menggunakan data tersebut sebagai dasar untuk mengambil keputusan yang lebih tepat.

5. HRIS Sulit Mengikuti Struktur Organisasi yang Semakin Kompleks

Seiring bisnis berkembang, struktur organisasi ikut berubah. Jumlah karyawan, lokasi, posisi, hingga entity dapat bertambah dan membuat proses HR semakin kompleks.

Jika HRIS tidak cukup fleksibel, HR akan kesulitan menyesuaikan sistem dengan kebutuhan tersebut. Karena itu, HRIS perlu mampu mengikuti perubahan struktur organisasi, multiple location atau entity, level dan posisi, serta workflow perusahaan agar proses HR tetap berjalan efisien.

6. HR Masih Sering Melakukan Double Input

Double input terjadi ketika HR harus memasukkan data yang sama ke beberapa sistem atau file, misalnya untuk employee data, attendance, payroll, dan reporting. Jika dilakukan terus-menerus, pekerjaan ini memakan waktu dan meningkatkan risiko kesalahan data.

Dengan HRIS terintegrasi, satu data dapat digunakan untuk beberapa proses. Misalnya, data karyawan digunakan untuk absensi, data absensi dan lembur masuk ke proses payroll, lalu hasilnya dapat digunakan untuk reporting. HR tidak perlu memasukkan data yang sama berulang kali, sehingga pekerjaan administratif berkurang dan waktu dapat dialihkan ke pekerjaan yang lebih strategis.

7. Sistem HRIS Tidak Lagi Mengikuti Perkembangan Perusahaan

Seiring perusahaan berkembang, kebutuhan HR semakin kompleks. Jika HRIS tidak mampu mengikutinya, HR biasanya mulai menggunakan cara lain, seperti kembali memakai Excel untuk reporting atau payroll, memindahkan data antar sistem secara manual, atau menggunakan tools tambahan. Cara ini disebut workaround.

Jika workaround semakin sering dilakukan, pekerjaan HR menjadi lebih panjang dan risiko kesalahan meningkat. Ini menjadi tanda bahwa perusahaan perlu mengevaluasi apakah HRIS yang digunakan masih mampu mendukung kebutuhan bisnis?

Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Pekerjaan manual semakin banyak
  • Data masih tersebar di berbagai sistem
  • Reporting membutuhkan waktu lama
  • Sistem sulit mengikuti perubahan kebijakan
  • Integrasi antarproses HR masih terbatas
  • HR sering membutuhkan tools tambahan di luar HRIS

HRIS yang tepat seharusnya mengikuti perkembangan perusahaan, sehingga HR tidak perlu terus mencari cara lain untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Apa yang Perlu Diperhatikan Saat Memilih HRIS yang Lebih Advanced?

Memilih HRIS untuk perusahaan bukan soal mencari sistem dengan fitur paling banyak. Yang penting, sistem tersebut mampu memenuhi kebutuhan HR saat ini dan mengikuti perkembangan perusahaan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  • Integrasi: Berbagai proses HR saling terhubung sehingga mengurangi input data berulang.
  • Fleksibilitas: Sistem dapat menyesuaikan struktur, kebijakan, dan workflow perusahaan.
  • Scalability: HRIS mampu mengikuti pertumbuhan jumlah karyawan, lokasi, dan kompleksitas bisnis.
  • Reporting & Analytics: Data HR mudah diakses dan digunakan untuk monitoring serta pengambilan keputusan.
  • Kemudahan penggunaan: Sistem mudah digunakan oleh HR, manager, maupun karyawan.

Apakah HRIS yang Lebih Advanced Berarti Lebih Rumit?

Tidak. HRIS yang advanced justru seharusnya membuat proses HR yang kompleks menjadi lebih sederhana.

Dengan sistem yang terintegrasi, berbagai proses seperti Core HR, Time Management, Payroll, Performance Management, Learning & Development, hingga Reporting dapat dikelola dalam satu sistem. Data juga dapat digunakan kembali tanpa perlu input berulang.

Jadi, tujuan HRIS bukan sekadar mendigitalisasi pekerjaan HR, tetapi membuat proses lebih efisien dan membantu HR fokus pada pekerjaan yang lebih strategis.

KESIMPULAN

HRIS yang tepat seharusnya membuat pekerjaan HR lebih sederhana, bukan menambah pekerjaan. Jika HR masih menghadapi data yang tersebar, payroll yang semakin kompleks, approval manual, reporting yang lama, double input, atau sistem yang sulit mengikuti perkembangan perusahaan, ini bisa menjadi tanda bahwa HRIS yang digunakan perlu dievaluasi.

Kebutuhan setiap perusahaan tentu berbeda. Karena itu, pilihlah HRIS yang terintegrasi, fleksibel, dan mampu mengikuti perkembangan bisnis, sehingga HR dapat mengurangi pekerjaan administratif dan lebih fokus pada pekerjaan yang strategis.

Pro-Int HRIS

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pro-Int HRIS menyediakan berbagai solusi HR dalam satu sistem, mulai dari Core HR, Time Management, Payroll, Performance Management, Recruitment, Learning & Development, hingga Workforce Management.

Ingin mengetahui apakah Pro-Int HRIS sesuai dengan kebutuhan perusahaan Anda? Pelajari lebih lanjut dan temukan solusi HR yang tepat bersama Pro-Int. #YakinDenganProInt 

FAQ Seputar HRIS

Apa itu HRIS?

HRIS atau Human Resources Information System adalah sistem yang membantu perusahaan mengelola data dan proses HR secara digital. HRIS dapat mencakup berbagai kebutuhan, seperti employee data, attendance, payroll, performance management, recruitment, learning & development, dan workforce management.

Kapan perusahaan membutuhkan HRIS?

Perusahaan membutuhkan HRIS ketika pengelolaan data dan proses HR mulai sulit dilakukan secara manual, terutama ketika jumlah karyawan meningkat, struktur organisasi semakin kompleks, atau perusahaan membutuhkan integrasi dan reporting yang lebih baik.

Apa manfaat HRIS terintegrasi?

HRIS terintegrasi membantu menghubungkan berbagai proses HR dalam satu sistem sehingga dapat mengurangi pekerjaan berulang, meminimalkan risiko ketidaksesuaian data, mempercepat proses administratif, dan memudahkan HR mendapatkan informasi yang dibutuhkan.

Apa saja proses HR yang dapat dikelola dengan Pro-Int HRIS?

Pro-Int HRIS mendukung berbagai kebutuhan HR, termasuk Core HR, Time Management, Payroll, Performance Management, Recruitment, Learning & Development, dan Workforce Management dalam sistem yang terintegrasi.

Apakah Pro-Int HRIS dapat mendukung perusahaan dengan kebutuhan HR yang kompleks?

Pro-Int HRIS dirancang untuk membantu perusahaan mengelola kebutuhan HR yang beragam melalui sistem yang terintegrasi dan fleksibel, sehingga dapat mendukung pengelolaan data, proses HR, serta kebutuhan workforce perusahaan.

Mulai Transformasi Bisnis Anda

#YakinDenganProint
Partner Tepat untuk Bisnis Anda

Dipercaya oleh perusahaan-perusahaan terdepan di Indonesia