Retroactive: Cara Mudah Mengelola Penyesuaian Gaji dengan HRIS

Table of Contents

Cara Mengelola Retroactive di Perusahaan dengan Efisien

Penyesuaian gaji atau tunjangan setelah periode pembayaran berjalan sering menjadi tantangan bagi tim HR. Hal ini bisa terjadi karena kenaikan gaji yang baru diputuskan, revisi kontrak, koreksi absensi atau lembur, atau tambahan tunjangan yang baru tercatat. 

Situasi seperti ini biasanya disebut retroactive. Meski terdengar sederhana, retroactive bisa menjadi tantangan tersendiri bagi tim HR dan payroll. Kesalahan perhitungan atau keterlambatan dalam memproses retroactive bisa berdampak pada kepuasan karyawan, akurasi laporan keuangan, bahkan kepatuhan terhadap regulasi.

Di sinilah pentingnya sistem HRIS. Dengan HRIS, proses retroactive dapat dihitung secara otomatis dan akurat, sehingga risiko kesalahan berkurang dan payroll tetap transparan. Simak penjelasan terkait di artikel berikut ini.

Apa Itu Retroactive?

Retroactive adalah pembayaran tambahan kepada karyawan untuk menutupi kekurangan pembayaran yang seharusnya diterima di periode sebelumnya. Biasanya hal ini terjadi saat ada penyesuaian gaji, bonus, atau tunjangan yang berlaku surut, namun belum dibayarkan secara penuh pada waktu yang tepat.

Beberapa contoh situasi yang biasanya memicu retroactive antara lain:

  • Kenaikan gaji atau promosi yang berlaku surut, misalnya karyawan diberikan kenaikan gaji di januari namun baru diproses bulan maret. Sehingga tambahan gaji di bulan januari dan februari di hitung sebagai retroactive. 
  • Perubahan tunjangan atau benefit, misalnya tambahan allowance atau bonus yang berlaku surut.
  • Koreksi absensi atau lembur, ketika data historis baru tervalidasi setelah payroll cut-off.
  • Revisi kontrak atau grade karyawan, yang mempengaruhi gaji sebelumnya.

Dengan memahami konsep ini, tim HR bisa lebih siap mengelola retroactive, sehingga penyesuaian gaji tetap akurat dan karyawan menerima haknya tepat waktu.

Catatan: Retroactive tidak hanya berlaku untuk kenaikan gaji, tapi juga untuk koreksi kesalahan perhitungan sebelumnya, sehingga penyesuaian gaji bisa terjadi baik karena kebijakan baru maupun perbaikan error.

Mengapa Retroactive Penting?

Retroactive penting karena memastikan karyawan menerima haknya secara adil sesuai dengan kebijakan dan kesepakatan yang berlaku. Tanpa penyesuaian retroactive, karyawan bisa menerima gaji atau tunjangan yang kurang dari seharusnya, yang berpotensi menurunkan kepuasan dan motivasi kerja.

Selain itu, retroactive juga membantu perusahaan menjaga akurasi laporan keuangan dan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan. Dengan perhitungan yang tepat, perusahaan dapat menghindari kesalahan pembayaran, sengketa internal, serta risiko audit yang bisa muncul akibat ketidaksesuaian gaji.

Cara kerja RetroactivePro-Int HRIS

Cara Kerja Retroactive

Berikut merupakan cara kerja retroactive: 

1. Identifikasi alasan terjadi Retroactive

Identifikasi beberapa alasan retroactive perlu dilakukan seperti kenaikan gaji tersurut, koreksi kesalahan atas perhitungan gaji, lembur, tunjangan atau karyawan dipromosikan atau penyesuaian tunjangan. 

2. Tentukan periode yang terdampak Retroactive

Setelah mengetahui penyebabnya, HR akan meninjau periode kapan karyawan seharusnya menerima bayaran berbeda. Misalnya dari bulan januari hingga februari, tapi perubahannya baru efektif di bulan maret. 

3. Hitung selisih gaji

Setelahnya tentukan jumlah yang seharusnya diterima karyawan di periode sebelumnya, lalu mengurangkan jumlah yang sudah dibayarkan dan hasilnya adalah selisih gaji yang harus dibayarkan secara retroactive.

Contoh:

Gaji Karyawan: Rp 4.000.000/bulan

Kenaikan gaji: Rp. 1.000.000/bulan berlaku mulai januari

Gaji yang baru akan dibayarkan mulai bulan maret

Gaji baru per bulan = Rp 4.000.000 + Rp 1.000.000 = Rp 5.000.000
Retroactive = kenaikan gaji × jumlah bulan yang belum dibayarkan
Retroactive = Rp 1.000.000 × 2 bulan (Januari + Februari) = Rp 2.000.000

Sehingga, Rp 2.000.000 harus dibayarkan sebagai retroactive.

4. Pembayaran retroactive

Setelah berhasil dihitung, pembayaran retroactive dapat dibayarkan bersamaan dengan gaji bulan berikutnya atau pembayaran terpisah tergantung kebijakan perusahaan. Pentingnya juga perusahaan memperhatikan potongan pajak seperti PPh-21. Potongan BPJS, iuran pensiun dan lainnya. Pembayaran retroactive termasuk penghasilan dan dikenakan PPh-21 sesuai metode perhitungan pajak yang berlaku di perusahaan, umumnya dihitung secara bersamaan dengan periode pembayaran.

5. Pencatatan dan Pelaporan

Perhitungan retroactive perlu dimasukan ke sistem payroll atau HRIS untuk memastikan akurasi laporan keuangan dan kepatuhan regulasi serta menciptakan slip gaji yang transparan. Serta menyimpan seluruh bukti  untuk audit atau pertanyaan dari karyawan.

Risiko jika retroactive tidak dibayarkan dengan benar.Pro-Int HRIS

Risiko Jika Retroactive Tidak Dibayarkan dengan Benar 

Jika retroactive tidak dihitung atau dibayarkan dengan tepat, beberapa risiko yang bisa muncul antara lain:

  1. Ketidakpuasan Karyawan
    Karyawan bisa merasa tidak adil karena gaji atau tunjangan yang seharusnya diterima tidak lengkap, yang berpotensi menurunkan motivasi dan loyalitas pada kinerja karyawan.
  2. Kesalahan Laporan Keuangan
    Kekurangan pembayaran bisa menyebabkan laporan keuangan perusahaan tidak akurat, sehingga menyulitkan pengelolaan anggaran dan audit.
  3. Masalah Kepatuhan Regulasi
    Perusahaan bisa melanggar regulasi ketenagakerjaan atau pajak jika gaji dan tunjangan tidak disesuaikan dengan peraturan yang berlaku.
  4. Sengketa Internal
    Kekurangan pembayaran dapat memicu komplain atau sengketa dengan karyawan, yang berpotensi mengganggu hubungan kerja dan produktivitas tim.
  5. Risiko Audit dan Legal
    Jika ketidaksesuaian pembayaran terdeteksi saat audit atau pemeriksaan, perusahaan bisa menghadapi denda atau sanksi hukum.

Hitung Gaji dan Retroactive Secara Akurat Dengan HRIS Pro-int

Mengelola gaji dan penyesuaian retroactive bisa menjadi hal yang kompleks bagi perusahaan, terutama jika melibatkan banyak karyawan atau berbagai jenis tunjangan. Kesalahan kecil saja bisa berdampak pada kepuasan karyawan, akurasi laporan keuangan, dan ketidakpatuhan terhadap regulasi. 

Dengan Pro-Int HRIS, perhitungan gaji dan penyesuaian retroactive dilakukan otomatis dan akurat termasuk selisih gaji, tunjangan, dan bonus yang berlaku surut. Sistem ini juga memudahkan pencatatan, laporan payroll, slip gaji transparan, serta analisis lanjutan untuk keputusan HR yang lebih tepat. 

Dengan ini, perusahaan tidak hanya dapat menghitung retroactive dan gaji reguler secara akurat, tetapi juga menghasilkan slip gaji secara transparan kepada karyawan, menyusun laporan payroll untuk kebutuhan pajak, BPJS, serta menyediakan data yang bisa digunakan untuk analisis lanjutan demi pengambilan keputusan HR yang lebih tepat dan strategis. 

Kesimpulan

Retroactive adalah mekanisme penting untuk memastikan karyawan menerima gaji, tunjangan, atau bonus yang seharusnya mereka terima di periode sebelumnya. Penyesuaian ini bisa terjadi karena kenaikan gaji yang berlaku surut, revisi tunjangan, koreksi absensi atau lembur, maupun perbaikan kesalahan perhitungan.

Jika retroactive tidak dihitung dengan tepat, perusahaan menghadapi risiko ketidakpuasan karyawan, laporan keuangan yang tidak akurat, sengketa internal, serta potensi masalah kepatuhan regulasi.

Perhitungan retroactive payroll berjalan otomatis  akurat dengan Pro Int HRIS

Dengan Pro-Int HRIS, perhitungan retroactive dapat dilakukan secara otomatis dan akurat, mulai dari identifikasi periode terdampak, perhitungan selisih gaji, hingga pencatatan dan pelaporan. Sistem ini memastikan karyawan menerima haknya tepat waktu, payroll tetap transparan, dan perusahaan tetap menjaga kepatuhan serta akurasi keuangan. Pastikan seluruh perhitungan payroll berjalan tepat waktu, akurat, dan efisien. Hubungi tim kami untuk informasi lebih lanjut #YakinDenganPro-Int

Mulai Transformasi Bisnis Anda

#YakinDenganProint
Partner Tepat untuk Bisnis Anda

Dipercaya oleh perusahaan-perusahaan terdepan di Indonesia